Monday, April 8, 2013

The Mother F%&*^r



Kalo ada yang gw syukuri dari kenyataan kalo gw gagal pergi ke you-know-where, itu adalah kesempatan menonton premier atau screening dari film yang amat sangat gw nantikan tahun ini: Kick Ass 2.

Imma huuuuge fan of Kick Ass! Nonton Kick Ass memberi gw pengalaman baru saat menonton film superhero. Kick Ass taught me that superhero movie is not always about the action and heroic scene, that the cowardice and guts also played a huge deal to make it really natural. Dengan jokes dan komedi yang nyambung banget sama selera tawa gw, serta cast yang ga ada satupun yang mengecewakan, Kick Ass memuaskan selera movie buff dan fangirling gw.

Salah satu yang membuat gw cinta banget sama Kick Ass, adalah karakter ini:


Red Mist a.k.a Kabut Merah


It’s actually kinda weird about me liking this guy. Bertaun2 jadi fangirl, entah itu untuk musisi atau aktor, Hollywood atau Asia, ga pernah sekalipun gw jatuh cinta sama cowok geek. Seriously~ I’m that kind of girl who loves bad boy more. Well not intentionally bad boy, but I see boys with laid back personality, a bit sloppy, messy, easy going, don’t care about looks and image, are way sexier than geeks. 

But why in the world I like this one? I don’t know~ Maybe Chris Mintz-Plasse’s charm radiates me too fucking deep~ hahaha!

Makanya gw seneng banget ketika Hollywood announce sekuel Kick Ass yang mana diceritakan kalo Red Mist akan terlahir kembali menjadi…




MAY DAY! MAY DAY! Excitement Overload!!!! XD


Okay, enough talking about Kick Ass, I'm pretty sure everyone will get the hype. Sekarang gw mau ngomongin sesuatu yang ga ada hubungannya dengan Kick Ass tapi masih ada sangkut pautnya sama istilah The Mother F%&*^r. You know, gw udah banyak banget nonton film Hollywood ataupun serial tevenya dan di setiap film yang gw tonton pasti ada aja istilah Mother F%&*^r. 

Awalnya gw berpendapat istilah ini hanya berlaku di film. I mean, in real life, kita atau gw ga akan menemukan orang yang sebegitu parahnya sampe harus dibilang The Mother F%&*^r. Well, jujur aja gw bukan orang suci yang ga pernah/jarang memaki di conversation sehari2. “shit”, “damn”, “fuck”, “crap”, “screw” dll itu bagian dari cara ngomong gw sehari2 banget, kalo lagi kesel sama situasi atau hal tertentu. 

Well i know cursing or swearing is something bad that totally doesn’t make me feel better about something or even make me a better person. Instead it makes me worse for sure. But somehow, memaki membawa kepuasan dan sensasi tersendiri saat berbicara. Mungkin seperti cabe. Dengan memakannya kita ga jadi sehat, jadi sakit malah. Tapi sensasi kepedesan itu bikin makan jadi lebih puas kan? Jadi ga jauh bedalah sama memaki yang bikin kita puas saat berbicara.

Kalo gw kesel sama seseorang, gw juga sering memaki. Yang paling sering jadi kata makian gw untuk seseorang biasanya ‘asshole’, ‘dumbass’, atau kalo cewek ‘bitch’ atau ‘whore’. Ekstrim ya? Menurut gw sih biasa aja, setidaknya untuk orang2 yang suka nonton film Hollywood, itu biasa. Masih banyak kosakata makian dalam bahasa Inggris yang lebih kasar, misalnya The Mother F%&*^r atau ‘shitface’ atau ‘son of a bitch’ atau ‘twat’. Tapi gw memutuskan untuk ga menggunakan yang lebih kasar itu. Well setidaknya gw belum pernah punya pengalaman buruk banget sama seseorang sampe harus memaki dia dengan istilah sekasar itu…………………………. sampai kemarin.



*based on true event*

Alkisah gw sedang bekerja di hari Minggu. Full day. I got event to handle in the morning, press conference to attend in the afternoon, and interview to do at night. Semua dalam rangkaian acara yang sama, yang mana media gw bekerja sama untuk media partner.

Gw berada disitu menjalankan perintah dari bos, yang sebelumnya sudah diberi penjelasan oleh oknum sebut saja K (=kampret), sang bintang utama dari postingan ini, biang dari semua masalah, troublemaker dan tersangka kasus kemarin. K itu selaku marketing yang mengurus detil dari media partnering. K ini sebenernya bukan official dari media gw. Dia dalam posisi sial sih, karena orang official dari media gw baru resign, jadi K yang kelimpahan tugasnya, but again, like I hell care~ A job is a job, she has to do it right no matter what and it's my job to make sure everything is on track. So she has to cooperate with me UNTIL IT'S OVER!

Sebagai orang yang punya andil besar untuk keberlangsungan acara hari, K ini dari awal udah ga bener. Banyak banget info yang harusnya disampaikan ke gw, atau at least bos gw, yang ga disampaikan dengan baik oleh K. Akibatnya, terjadilah banyak miskomunikasi fatal. I share to you one of them:

Jadi ceritanya gw harus interview orang jam 7 malam. Orang itu adalah Mario Maurer, orang terpenting dari event yang gw urus sepanjang hari Minggu itu. Beberapa hari sebelumnya untuk kepentingan birokrasi, gw sudah mengumpulkan list pertanyaan yang akan gw ajukan. Tapi di hari H, karena Mario super-sibuk-sehingga-jadi-super-lelah-dan-super-menyebalkan, interview itu dibatalin.

Lantas gw ga terima dong, gw udah nunggu dari pagi dan gw punya tanggung jawab menulis dua halaman tentang dia. Jadinya gw nego ulang sama panitianya. Eh out of nowhere si panitianya bilang “kenapa pengen banget ketemu sih mbak? Kan pertanyaannya udah dijawab by email. Sudah kami kirim ke email K tadi siang~”

I was like… what?!

Kalo pertanyaan udah dijawab ngapain gw nungguin sampe malem gini?!

But most importantly, KENAPA K NGGAK NGABARIN GW??????!!!!!!!!!!!!!!!

Kalo K udah ngabarin dari tadi siang, gw udah bisa pulang dari tadi! Fuck!

Lagipula bayangkan, misalnya interview itu beneran terjadi dan gw menanyakan pertanyaan yang sama dengan yang telah gw submit sebelumnya, that would be really awkward, right? Is she trying to make me look dumb in front of Mario Maurer??!! Double fuck!

Emosi gw langsung mencuat which is sesuatu yang sangat wajar di situasi seperti ini, apalagi didukung dengan fisik gw yang sudah terlalu lelah karena bekerja dari pagi tanpa proper meal, tanpa proper waiting room, tanpa proper treat, gw belum mandi, gw belum cuci muka, gw berantakan… One thing I have in mind: K will be so dead when she met me.

Gw berulang kali coba telp K, ga direspon. Tiga colleague gw yang lain juga coba telp ga direspon. This is insane! This bitch is totally messing with me!

Akhirnya dengan segala luapan kemarahan gw gertak dia via SMS… and a few minutes later, she replied my text but guess what, dia nyolotin balik gw! WHAT-THE-FUCK?! Giliran gw sms/telp untuk kepentingan kerjaan, ga pernah direspon, sekalinya digertak dikit aja, dia langsung respon tapi nyolot! Eh kampung banget mentalnyeeee~~ 

This is so fuckin funny! I’m the one who being victimized here; I have complete right to be mad at her! Tapi kenapa jadi dia yang marah2?!! Unbelievable! 

Then she flooded me with hundreds of text, talking nonsense about everything and trying to blame me back. Makin lama bahasanya makin ga jelas, ketauan banget ni orang panik tapi masih coba membela diri. Gw sih ketawa2 aja bacanya, abis lucu. Sesekali gw mencoba mengembalikan dia ke jalan yang benar dengan menjelaskan kembali pake logika, tapi respon dia sama aja bodohnya. How pity~ Kalo dipikir2, gw memang ga mendapat kejelasan atas semuanya, but at least I finally got her attention~ HAHAHAHA~~~

Well the rest of it became really complicated to tell.

Yang jelas kejadian itu membuat gw menemukan sosok The Mother F%&*^r dalam kehidupan yang udah lama gw cari-cari. Ternyata The Mother F%&*^r itu real, ga cuma di dalem film doang. Hahahaha~

K really is The Mother F%&*^r. What she did to me makes her really suit The Mother F%&*^r title. Gw pun merasa demikian. ‘kampret’, ‘bitch’, kayaknya kurang ngena untuk memaki dia, terlalu halus, hahahaha~

So people, situasi tak terduga bisa bisa datang kapan saja. Orang2 macem The Mother F%&*^r bisa muncul kapan saja. Just remember one thing, no matter how suck it will be, always prepare a cursing word to make it more… alive! LOL~

So that’s it, thank you for reading The Mother F%&*^r.





No comments:

Post a Comment